Memanen Hikmah di Taman Karunia

Medio Agustus 2013 aku resmi menjadi mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam. Sebelumnya, aku sudah berniat menyambi kerja/wirausaha untuk memenuhi biaya kuliah dan biaya hidup di tanah rantau. Berharap pula, ditengah perjalanan studi bisa meraih beasiswa. Tersebab, aku sama sekali tak dapat kiriman dana dari orangtua. Aku sangat maklum karena memang tahu kondisi perekonomian keluarga. Di rumah, sering ada orang-orang yang menagih utang kepada bapak dan ibu: aku sedih, menangis dalam hati. Semoga, sesegera mungkin aku bisa membantu beliau!

Masa awal kuliah, aku sempat berjualan nasi rames, jajanan gorengan, dan pernah beralih jualan kaos kaki, keliling kampus. Tak ada rasa malu dan gengsi. Yang paling utama aku pikirkan adalah bagaimana caranya agar bisa tetap bertahan melawan kerasnya kehidupan. Berjuang itu sumber kenikmatan, buahnya kemenangan. Bermalas-malasan itu biang kebosanan, buahnya kekalahan.

Pernah aku mencari inforamsi beasiswa. Melihat-lihat di papan pengumuman fakultas, mencari lewat internet, namun tak jua menemukan yang “pas”. Rupanya, lowongan beasiswa akan banyak ketika kita sudah berada di semester III. Aku “kecolongan” informasi. Akhir september 2013 ada seleksi untuk 10 kuota tambahan Bidikmisi (Beasiswa Pendidikan Mahasiswa Miskin Berprestasi). Tanggal 1 Oktober 2013 aku datang ke admisi, mengajukan ikut seleksi karena aku “lihat” diriku memenuhi kualifikasi dan sangat membutuhkan beasiswa. Namun, pihak admisi sudah mengunci pintu rapat-rapat atas dorongan usahaku—yang terlambat. Sejenak sendu merundung hatiku. Terlintas di ingatan, beberapa temanku yang kaya, HP bagus, laptop punya, rumah mewah, motor ada, orangtua berpenghasilan tinggi, namun mereka “berhasil” dapat beasiswa Bidikmisi. Sebuah ironi, fakta di depan mataku sendiri.

Aku menghela nafas. Harus sabar dan tetap berpikir positif. Pasti nanti akan banyak hikmahnya. Pengalaman gagalku menggapai beasiswa Bidikmisi aku sharing-kan ke adik-adik SMA. Menurut pengamatanku, banyak sekali (calon) mahasiswa yang sebenarnya mereka berhak mendapat Bidikmisi. Karena terbatasnya akses dan kurang aktifnya mencari informasi peluang itu jadi terlewatkan. Pasca “kegagalanku” itu, aku jadi rajin berbagi informasi beasiswa dan memotivasi teman-teman yang berlatar belakang sepertiku untuk berjuang bisa kuliah. “Meski tak punya uang, kuliah saja. Kita bisa cari beasiswa atau menyambi kerja/wirausaha,” itu inti dari ajakkanku. Aku merasa getir, menabahkan hati dan berdoa, “Semoga ini tujuan mulia, bermanfaat luas dan aku bisa menerapkannya.”

Aku berhenti jualan yang membuat rempong. Aku beralih jualan buku via online. Saat permulaan sepi order, agak lama. Aku tak menyerah. Terus berusaha, terus mencari strategi terbaik, dsb. Walhasil, peningkatan demi peningkatan aku alami. Keuntungan penjualan buku sudah lumayan. Ini rezeki dari Allah. Ini hikmah pertama yang aku catat. Kegagalan Bidikmisi membuatku semakin berjiwa mandiri dan kreatif. Beberapa bulan kemudian, Maret 2014 (atau April, aku agak lupa) aku mendapat beasiswa dari Yayasan Taman Karunia. Beasiswa ini bermula dari informasi yang disampaikan Nieluh, teman kampusku. Lalu, aku mengikuti tahap wawancara dan dinyatakan lolos. Ini hikmah kedua, dan akan ada hikmah yang lebih berlimpah lagi, yang mungkin aku tak sanggup atawa akan luput jika menghitungnya.

Di antara pengurus Yayasan Taman Karunia yakni sepasang suami-istri, Mas Anton dan Mba Nana. Dari beliau, aku (serta teman-teman Taman Karunia) mendapat banyak pelajaran (hidup) yang berharga. Semangat berjuang dan berbagi, beliau transformasikan kepada kami. Betapa luar biasanya beliau saat masih berstatus mahasiswa. Mandiri, berprestasi, berkontribusi, dan berorganisasi, beliau lakukan beriringan. Di Taman Karunia ini, aku seperti menemukan kakak kandung yang menylurkan energi kasih. Beliau telah menanamkan pohon optimisme di jiwa kami.

Relasi kami, antar teman Taman Karunia yang notabene mahasiswa lintas kampus adalah suatu keberuntungan. Karena kami bisa saling sharing dan berbagi informasi bermanfaat dari kampus masing-masing. Aku beruntung sekali mengenal Dian Yuanita, mahasiswi super berprestasi dari fakultas Kehutanan, Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta. Beberapa prestasinya yang aku ketahui yaitu Juara Menulis Cerpen, Juara Monolog, Juara Pencak Silat, Juara Mitigasi Bencana, dan Mahasiswa Berprestasi UGM 2014 (aku lihat di postingan FB-nya). Prestasi Dian yang telah disebut itu baru sekadar yang kuketahui, tentu yang seutuhnya, akan lebih banyak lagi.

Dian adalah volunteer Taman Karunia yang luar biasa. Ketika jadi pembicara, ia berhasil mentransformasikan semangat dan keceriaan pada anak-anak di Panti Asuhan Bina Siwi dan Himmatu, Bantul. Sebulan sekali, kami mnengunjungi dua tempat tersebut untuk menyalurkan donasi dari Yayasan Taman Karunia sekaligus kami berbagi cerita, pengalaman, dan mengajarkan “sedikit” pengetahuan yang kami miliki.

Berada di “lingkungan” Taman Karunia membuatku bisa belajar bersyukur, belajar berbagi. Melihat teman atau adik-adik yang ada Bina Siwi dan Himmatu membuatku sadar untuk tak sekadar “menyelamatkan” kesusahan diri sendiri. Mereka, “anak-anak berkebutuhan khusus” dan “anak-anak yang terpisah dari orangtua” (meminjam istilah yang santun dari Dian Yuanita) betapa ujian hidupnya lebih berat dari kita. Kita harus meringankan “beban”-nya, mesti membantunya secara ikhlas. Berangkat dari sini, aku jadi tergerak memberikan kontribusiku pada sesama, tergerak menjadi sosok yang sukses dan berprestasi agar bisa menebarkan manfaat yang luas.

Aku sudah dua kali berlaku sebagai “pembicara” di Himmatu. Bicara di hadapan hampir seratus anak TK, SD dan SMP seusai mereka mengaji sore hari. Mulanya aku canggung dan bingung bagaimana cara berkomunikasi yang efektif dengan anak-anak. Nah, dari peristiwa ini-lah aku harus belajar public speaking yang baik. Suatu saat dan di suatu tempat, mungkin aku akan sering mengaplikasikannya. Aku jadi membayangkan ketika aku sudah punya “prestasi”, “keahlian” di suatu bidang, aku musti berbagi pengalaman, mengunjungi berbagai pelosok daerah untuk menyampaikan inspirasi lewat komunikasi di hadapan khalayak ramai.

Kesempatan pertamaku bicara di Himmatu adalah membahas tentang “keberanian bercita-cita” dan “kesungguhan untuk mewujudkannya.” Aku bicara panjang lebar agar dalam hati mereka tumbuh semangat, keoptimisan menatap masa depan tidak takut terhadap keterbatasan yang dimiliki. Aku paparkan kisah Jamil Azzaini, anak petani miskin di Lampung yang saat SD bercita-cita jadi Insinyur Pertanian. Banyak teman Jamil yang menghinanya karena cita-citanya dianggap mereka terlalu muluk. Ayah Jamil menasihati, agar orang-orang tak lagi menghina maka ia harus membuktikannya. Jamil pun menjadi rajin belajar. Lulus SD dengan nilai terbaik di sekolah. Selama SMP dan SMA selalu rangking pertama, kemudian diterima IPB (Institut Pertanian Bogor). Semasa kuliah Jamil pun sambil berbisnis, namun tetap berprestasi. Sampai akhirnya ia benar-benar sukses, cita-cita masa kecilnya terwujud.

Pada kesempatan pertama itu pula, aku mengisahkan sekelumit perjuanganku yang pernah jadi loper koran selama setahun dan kuliah sambil jualan buku. Tak ketinggalan, aku ceritakan adikku, Khoirul Anam, yang baru lulus SMP berhenti sekolah satu tahun karena keterbatasan ekonomi keluarga. Adikku rela mengisi waktu vakum studi satu tahun dengan menjadi loper koran. Kesabaran dan perjuangan adikku itu berbuah manis, ia mendapat beasiswa sampai lulus SMA dari ketua Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Pusat. Kini adikku, bersekolah di SMA terbaik di kota kami: SMA Negeri 1 Cilacap.

Kesempatan kedua bicara di hadapan adik-adik Himmatu, aku membahas materi kepenulisan. Manfaat menulis untuk mengikat ilmu, memudahkan belajar. Kemudian jika menulis puisi, cerpen atau artikel yang dikirim ke media massa (koran, tabloid, majalah, buku) manfaatnya adalah gagasan kita menjadi tersebar luas, memberikan pengetahuan bagi orang banyak, nama kita terkenal (jadi banyak teman) dan mendapat uang saku/honorarium, dsb. Tiap menengok adik-adik Himmatu dan Bina Siwi, aku juga kerap menghadiahi mereka beberapa buku. Dalam buku terkandung banyak ilmu. Jika mereka membaca buku (mempelajarinya) tentu akan beroleh manfaaat dan spirit perbaikan diri.

***

Di lingkungan Taman Karunia, sungguh aku telah memanen beragam hikmah, menuai sejuta inspirasi dan motivasi. Bergaul dengan orang-orang positif nan hebat. Mas Anton yang kerja di perusahaan dan yang sudah mengunjungi beberapa negara seberang. Mba Nana perempuan yang energik, yang pernah jadi manager muda suatu perusahaan, dan yang-yang lain yang membuat diriku “memarahi” diri sendiri karena merasa sampai usia kuliah belum bisa berbuat “apa-apa”: miskin prestasi dan manfaat.

Kala Mba Nana menceritakan pengalamannya semasa jadi mahasiswa UGM dan menceritakan “adik-adik”-nya yang hebat, seperti Dian yang telah menerbitkan buku aku jadi sangat malu menjadi lelaki jika tak bisa menunjukkan prestasi. Teman perempuan yang lain yang tak kalah aku segani ada Ratna, Ayu, Susi, dkk. Dari wajah mereka yang teduh aku menangkap ketenangan hati, kemuliaan jiwa, rajin berkarya dan semangat menatap masa depan yang cerah.

***

Pada suatu Syawal di 2014, di Ponpes Mafaza, aku menyampaikan salam kepada pengurus ponpes dari Mas Anton yang tak bisa menghadiri acara Syawalan karena sedang sakit. Lantas Pak Ustaz memberitahu para santri bahwa Mas Anton, donatur Mafaza dari Yayasan Taman Karunia sedang sakit. Pak Ustaz memohon hadirin untuk memanjatkan doa untuk kesembuhan beliau. Peristiwa ini masih membekas di benakku. Betapa mulianya hati orang yang bersedekah, begitu banyak orang yang akan mendoakaan kebaikkan untuknya. Doa-doa baik dan indah dari insan-insan yang gemar mengaji tentu sangat diijabahi. Hikmah dari peristiwa ini: jadilah orang kaya dan manfaatkan kekayaan itu di jalan Allah.

“أحب الناس إلى الله  أنفعهم للناس”

“Manusia yang paling dicintai Allah adalah yang paling bermanfaat”

***

*** Amin Sahri

admin

Related Posts
Leave a reply