DSC_1300

Sungguh tiada ungkapan yang lebih baik selain mengucapkan syukur atas nikmat yang membahagiakan ini. Siswa didik Panti Asuhan Mafaza yang Taman Karunia bina selama 3 tahun ini telah menyelesaikan pendidikannya di tingkat MAN. Dan Alhamdulillah, sebanyak 9 siswa telah diterima di berbagai Perguruan Tinggi Negeri pada Pendaftaran Mahasiswa Tahun 2015 . Berikut ini adalah daftar siswa didik tersebut.

  1. Ahmad Dianto : Jurusan Sosiologi Agama, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
  2. Hotibul Hasan : Jurusan Perbandingan Agama, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
  3. Ahmad Muslih : Jurusan Bahasa dan Sastra Arab, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
  4. Aziz : Jurusan Managemen UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
  5. Abdul Aziz : Jurusan Bahasa dan Sastra Arab, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
  6. Aadib Ashuri : Jurusan Bahasa dan Sastra Arab, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
  7. Muizudin Lain : Jurusan Ilmu Pengetahuan Alam, UIN Salatiga
  8. Khoirul Anam : Jurusan Bahasa dan Sastra, Universitas Negeri Yogyakarta
  9. Munasikhin : Jurusan Olahraga, Universitas Negeri Yogyakarta

Kami mengucapkan banyak terimakasih kepada Keluarga Besar Taman Karunia yang telah istiqomah memberikan donasi kepada para siswa didik Panti Asuhan tersebut. Semoga Allah SWT memberikan limpahan berkah dan karunia Nya dalam setiap langkah kehidupan. Aamiin.

 

Salam Syukur,

Anton Prasojo

Selamat pagi Sahabat Taman Karunia

Segala puji bagi Alloh SWT yang telah memberikan anugerahNya kepada kita semuanya. Alhamdulillah di bulan Maret yang bahagia ini Taman Karunia kembali memberikan donasi untuk Panti Asuhan Binasiwi (Panti Anak Berkebutuhan Khusus) dan Himmatu (Himpunan Anak Yatim Piatu) di Bantul,Yogyakarta. Ucapan terima kasih kepada seluruh Sahabat Taman Karunia yang telah berpartisipasi mengikuti kegiatan tersebut. Semoga amalan tersebut dapat memberi manfaat untuk sesama.

Kegiatan penyaluran donasi Taman Karunia dilaksanakan setiap bulan dan biasanya pada hari Sabtu diminggu pertama. Agenda di Binasiwi kami mengajak anak-anak bermain bersama, sharing pengalaman dan sebagainya. Tepat pukul 14.30 kami sampai di sana, terlihat beberapa adek-adek yang sedang membuat kipas, berlatih bernyanyi, dan ada pula yang belajar menggambar. Alhamdulillah pesanan kipas di Binasiwi saat ini lumayan banyak sehingga adek-adek sering membuat kipas. Menurut pengurus Binasiwi, anak-anak sekarang sudah mahir membuat kipas karena banyaknya pesanan, yang dulunya belum bisa membuat kini sudah bisa membuat kipas dengan baik dan layak untuk di jual di pasaran.

Agenda di bulan Maret ini kami bersama-sama mengajar adek-adek mengaji. Adek-adek di Himmatu setiap satu minggu sekali tepatnya Sabtu sore pkl 16.00 belajar agama bersama-sama, mengaji, hafalan dan sebagainya. Di Himmatu sudah ada pengurus yang memberi dampingan terkait hafalan, sehingga pada hari Sabtu itu adek-adek menyetor hafalan dan dikoreksi. Biasanya setelah acara selesai adek-adek makan bersama dan sholat magrib bersama.

Salam sukses dari Sahabat Taman Karuni untuk adek-adek Binasiwi dan Himmatu. Teruslah belajar dan belajar. Ucapan terima kasih kepada Rahayu, Susi, Nurul, Dian, Amin, Novi, Wulan, Mamah, Sri, Upi dan semuanya yang berkenan bersilaturahmi di Binasiwi dan Himmatu. Taman Karunia, karuniaMu karunia untuk sesama.

Salam

(Nauta)

Medio Agustus 2013 aku resmi menjadi mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam. Sebelumnya, aku sudah berniat menyambi kerja/wirausaha untuk memenuhi biaya kuliah dan biaya hidup di tanah rantau. Berharap pula, ditengah perjalanan studi bisa meraih beasiswa. Tersebab, aku sama sekali tak dapat kiriman dana dari orangtua. Aku sangat maklum karena memang tahu kondisi perekonomian keluarga. Di rumah, sering ada orang-orang yang menagih utang kepada bapak dan ibu: aku sedih, menangis dalam hati. Semoga, sesegera mungkin aku bisa membantu beliau!

Masa awal kuliah, aku sempat berjualan nasi rames, jajanan gorengan, dan pernah beralih jualan kaos kaki, keliling kampus. Tak ada rasa malu dan gengsi. Yang paling utama aku pikirkan adalah bagaimana caranya agar bisa tetap bertahan melawan kerasnya kehidupan. Berjuang itu sumber kenikmatan, buahnya kemenangan. Bermalas-malasan itu biang kebosanan, buahnya kekalahan.

Pernah aku mencari inforamsi beasiswa. Melihat-lihat di papan pengumuman fakultas, mencari lewat internet, namun tak jua menemukan yang “pas”. Rupanya, lowongan beasiswa akan banyak ketika kita sudah berada di semester III. Aku “kecolongan” informasi. Akhir september 2013 ada seleksi untuk 10 kuota tambahan Bidikmisi (Beasiswa Pendidikan Mahasiswa Miskin Berprestasi). Tanggal 1 Oktober 2013 aku datang ke admisi, mengajukan ikut seleksi karena aku “lihat” diriku memenuhi kualifikasi dan sangat membutuhkan beasiswa. Namun, pihak admisi sudah mengunci pintu rapat-rapat atas dorongan usahaku—yang terlambat. Sejenak sendu merundung hatiku. Terlintas di ingatan, beberapa temanku yang kaya, HP bagus, laptop punya, rumah mewah, motor ada, orangtua berpenghasilan tinggi, namun mereka “berhasil” dapat beasiswa Bidikmisi. Sebuah ironi, fakta di depan mataku sendiri.

Aku menghela nafas. Harus sabar dan tetap berpikir positif. Pasti nanti akan banyak hikmahnya. Pengalaman gagalku menggapai beasiswa Bidikmisi aku sharing-kan ke adik-adik SMA. Menurut pengamatanku, banyak sekali (calon) mahasiswa yang sebenarnya mereka berhak mendapat Bidikmisi. Karena terbatasnya akses dan kurang aktifnya mencari informasi peluang itu jadi terlewatkan. Pasca “kegagalanku” itu, aku jadi rajin berbagi informasi beasiswa dan memotivasi teman-teman yang berlatar belakang sepertiku untuk berjuang bisa kuliah. “Meski tak punya uang, kuliah saja. Kita bisa cari beasiswa atau menyambi kerja/wirausaha,” itu inti dari ajakkanku. Aku merasa getir, menabahkan hati dan berdoa, “Semoga ini tujuan mulia, bermanfaat luas dan aku bisa menerapkannya.”

Aku berhenti jualan yang membuat rempong. Aku beralih jualan buku via online. Saat permulaan sepi order, agak lama. Aku tak menyerah. Terus berusaha, terus mencari strategi terbaik, dsb. Walhasil, peningkatan demi peningkatan aku alami. Keuntungan penjualan buku sudah lumayan. Ini rezeki dari Allah. Ini hikmah pertama yang aku catat. Kegagalan Bidikmisi membuatku semakin berjiwa mandiri dan kreatif. Beberapa bulan kemudian, Maret 2014 (atau April, aku agak lupa) aku mendapat beasiswa dari Yayasan Taman Karunia. Beasiswa ini bermula dari informasi yang disampaikan Nieluh, teman kampusku. Lalu, aku mengikuti tahap wawancara dan dinyatakan lolos. Ini hikmah kedua, dan akan ada hikmah yang lebih berlimpah lagi, yang mungkin aku tak sanggup atawa akan luput jika menghitungnya.

Di antara pengurus Yayasan Taman Karunia yakni sepasang suami-istri, Mas Anton dan Mba Nana. Dari beliau, aku (serta teman-teman Taman Karunia) mendapat banyak pelajaran (hidup) yang berharga. Semangat berjuang dan berbagi, beliau transformasikan kepada kami. Betapa luar biasanya beliau saat masih berstatus mahasiswa. Mandiri, berprestasi, berkontribusi, dan berorganisasi, beliau lakukan beriringan. Di Taman Karunia ini, aku seperti menemukan kakak kandung yang menylurkan energi kasih. Beliau telah menanamkan pohon optimisme di jiwa kami.

Relasi kami, antar teman Taman Karunia yang notabene mahasiswa lintas kampus adalah suatu keberuntungan. Karena kami bisa saling sharing dan berbagi informasi bermanfaat dari kampus masing-masing. Aku beruntung sekali mengenal Dian Yuanita, mahasiswi super berprestasi dari fakultas Kehutanan, Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta. Beberapa prestasinya yang aku ketahui yaitu Juara Menulis Cerpen, Juara Monolog, Juara Pencak Silat, Juara Mitigasi Bencana, dan Mahasiswa Berprestasi UGM 2014 (aku lihat di postingan FB-nya). Prestasi Dian yang telah disebut itu baru sekadar yang kuketahui, tentu yang seutuhnya, akan lebih banyak lagi.

Dian adalah volunteer Taman Karunia yang luar biasa. Ketika jadi pembicara, ia berhasil mentransformasikan semangat dan keceriaan pada anak-anak di Panti Asuhan Bina Siwi dan Himmatu, Bantul. Sebulan sekali, kami mnengunjungi dua tempat tersebut untuk menyalurkan donasi dari Yayasan Taman Karunia sekaligus kami berbagi cerita, pengalaman, dan mengajarkan “sedikit” pengetahuan yang kami miliki.

Berada di “lingkungan” Taman Karunia membuatku bisa belajar bersyukur, belajar berbagi. Melihat teman atau adik-adik yang ada Bina Siwi dan Himmatu membuatku sadar untuk tak sekadar “menyelamatkan” kesusahan diri sendiri. Mereka, “anak-anak berkebutuhan khusus” dan “anak-anak yang terpisah dari orangtua” (meminjam istilah yang santun dari Dian Yuanita) betapa ujian hidupnya lebih berat dari kita. Kita harus meringankan “beban”-nya, mesti membantunya secara ikhlas. Berangkat dari sini, aku jadi tergerak memberikan kontribusiku pada sesama, tergerak menjadi sosok yang sukses dan berprestasi agar bisa menebarkan manfaat yang luas.

Aku sudah dua kali berlaku sebagai “pembicara” di Himmatu. Bicara di hadapan hampir seratus anak TK, SD dan SMP seusai mereka mengaji sore hari. Mulanya aku canggung dan bingung bagaimana cara berkomunikasi yang efektif dengan anak-anak. Nah, dari peristiwa ini-lah aku harus belajar public speaking yang baik. Suatu saat dan di suatu tempat, mungkin aku akan sering mengaplikasikannya. Aku jadi membayangkan ketika aku sudah punya “prestasi”, “keahlian” di suatu bidang, aku musti berbagi pengalaman, mengunjungi berbagai pelosok daerah untuk menyampaikan inspirasi lewat komunikasi di hadapan khalayak ramai.

Kesempatan pertamaku bicara di Himmatu adalah membahas tentang “keberanian bercita-cita” dan “kesungguhan untuk mewujudkannya.” Aku bicara panjang lebar agar dalam hati mereka tumbuh semangat, keoptimisan menatap masa depan tidak takut terhadap keterbatasan yang dimiliki. Aku paparkan kisah Jamil Azzaini, anak petani miskin di Lampung yang saat SD bercita-cita jadi Insinyur Pertanian. Banyak teman Jamil yang menghinanya karena cita-citanya dianggap mereka terlalu muluk. Ayah Jamil menasihati, agar orang-orang tak lagi menghina maka ia harus membuktikannya. Jamil pun menjadi rajin belajar. Lulus SD dengan nilai terbaik di sekolah. Selama SMP dan SMA selalu rangking pertama, kemudian diterima IPB (Institut Pertanian Bogor). Semasa kuliah Jamil pun sambil berbisnis, namun tetap berprestasi. Sampai akhirnya ia benar-benar sukses, cita-cita masa kecilnya terwujud.

Pada kesempatan pertama itu pula, aku mengisahkan sekelumit perjuanganku yang pernah jadi loper koran selama setahun dan kuliah sambil jualan buku. Tak ketinggalan, aku ceritakan adikku, Khoirul Anam, yang baru lulus SMP berhenti sekolah satu tahun karena keterbatasan ekonomi keluarga. Adikku rela mengisi waktu vakum studi satu tahun dengan menjadi loper koran. Kesabaran dan perjuangan adikku itu berbuah manis, ia mendapat beasiswa sampai lulus SMA dari ketua Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Pusat. Kini adikku, bersekolah di SMA terbaik di kota kami: SMA Negeri 1 Cilacap.

Kesempatan kedua bicara di hadapan adik-adik Himmatu, aku membahas materi kepenulisan. Manfaat menulis untuk mengikat ilmu, memudahkan belajar. Kemudian jika menulis puisi, cerpen atau artikel yang dikirim ke media massa (koran, tabloid, majalah, buku) manfaatnya adalah gagasan kita menjadi tersebar luas, memberikan pengetahuan bagi orang banyak, nama kita terkenal (jadi banyak teman) dan mendapat uang saku/honorarium, dsb. Tiap menengok adik-adik Himmatu dan Bina Siwi, aku juga kerap menghadiahi mereka beberapa buku. Dalam buku terkandung banyak ilmu. Jika mereka membaca buku (mempelajarinya) tentu akan beroleh manfaaat dan spirit perbaikan diri.

***

Di lingkungan Taman Karunia, sungguh aku telah memanen beragam hikmah, menuai sejuta inspirasi dan motivasi. Bergaul dengan orang-orang positif nan hebat. Mas Anton yang kerja di perusahaan dan yang sudah mengunjungi beberapa negara seberang. Mba Nana perempuan yang energik, yang pernah jadi manager muda suatu perusahaan, dan yang-yang lain yang membuat diriku “memarahi” diri sendiri karena merasa sampai usia kuliah belum bisa berbuat “apa-apa”: miskin prestasi dan manfaat.

Kala Mba Nana menceritakan pengalamannya semasa jadi mahasiswa UGM dan menceritakan “adik-adik”-nya yang hebat, seperti Dian yang telah menerbitkan buku aku jadi sangat malu menjadi lelaki jika tak bisa menunjukkan prestasi. Teman perempuan yang lain yang tak kalah aku segani ada Ratna, Ayu, Susi, dkk. Dari wajah mereka yang teduh aku menangkap ketenangan hati, kemuliaan jiwa, rajin berkarya dan semangat menatap masa depan yang cerah.

***

Pada suatu Syawal di 2014, di Ponpes Mafaza, aku menyampaikan salam kepada pengurus ponpes dari Mas Anton yang tak bisa menghadiri acara Syawalan karena sedang sakit. Lantas Pak Ustaz memberitahu para santri bahwa Mas Anton, donatur Mafaza dari Yayasan Taman Karunia sedang sakit. Pak Ustaz memohon hadirin untuk memanjatkan doa untuk kesembuhan beliau. Peristiwa ini masih membekas di benakku. Betapa mulianya hati orang yang bersedekah, begitu banyak orang yang akan mendoakaan kebaikkan untuknya. Doa-doa baik dan indah dari insan-insan yang gemar mengaji tentu sangat diijabahi. Hikmah dari peristiwa ini: jadilah orang kaya dan manfaatkan kekayaan itu di jalan Allah.

“أحب الناس إلى الله  أنفعهم للناس”

“Manusia yang paling dicintai Allah adalah yang paling bermanfaat”

***

*** Amin Sahri

Assalamu’alaikum wr wb,

Taman Karunia, suatu wadah dimana saya belajar banyak hal di sana. Tahun 2012 saya masuk dan ditetapkan mendapat beasiswa taman karunia scholarship. Segala puji syukur kepada Alloh SWT karena anugerahNya saya bisa bergabung menjadi bagian dari Taman karunia. Dengan adanya beasiswa tersebut sangat membantu saya terkait biaya untuk kebutuhan kuliah.  Dari beaisiwa tersebut secara tidak langsung juga meringankan beban mereka karena orang tuaku menyekolahkan 3 anak, 2 kuliah dan 1 SD. Dimana kondisi keluarga saya yang biasa saja, saya dan adik kuliah di dua kota yang berbeda dan tidak jarang untuk biaya yang kami peroleh dari orang tua sangatlah minim. Menurut sebagian orang mungkin tak seberapa, tetapi menurut kami beasiswa tersebut sangat membantu. Sejak saat itu saya jarang meminta uang kepada orang tua dan harapan kedepannya semoga sampai lulus saya bisa mandiri dan tidak memberatkan mereka. Setelah ditetapkan memperoleh kesempatan yang baik itu, saya berusaha dengan sungguh-sungguh untuk menggunakannya sesuai apa yang menjadi tujuan program dari taman karunia tersebut. Ada beberapa agenda-agenda yang kami lakukan dengan teman-teman seperjuangan diantaranya silaturahim ke beberapa panti asuhan. Kita bisa menegetahui bagaimana kehidupan teman-teman disana yang mengalami keterbatasan baik secara materi dan mental. Kita patut bersyukur dengan apa yang kita punyai saat ini dan tentunya jangan lupa untuk menanamkan jiwa menolong sesama yang membutuhkan sejak dini. Hal tersebut sesuai perintah Alloh bagaiamana menjadi hamba yang baik yaitu peduli dengan sesama hamba Alloh SWT (Ratna).

sumber: islamitubaik.blogspot.com

sumber: islamitubaik.blogspot.com

Sedekah, mendengar namanya saja, orang sudah kenal keutamaannya. Sedekah berasal dari As-Shidq yang artinya jujur. Seorang muslim yang bersedekah berarti dia membuktikan kejujurannya dalam beragama. Betapa tidak, harta yang merupakan bagian yang dia cintai dalam hidupnya, harus dia berikan ke pihak lain. Karena itulah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebut sedekah sebagai ‘burhan’ (bukti). Dalam hadis dari Abu Malik Al-Asy’ari, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَالصَّلَاةُ نُورٌ، وَالصَّدَقَةُ بُرْهَانٌ وَالصَّبْرُ ضِيَاءٌ، وَالْقُرْآنُ حُجَّةٌ لَكَ أَوْ عَلَيْكَ

“Shalat adalah cahaya, sedekah merupakan bukti, sabar itu sinar panas, sementara Al-Quran bisa menjadi pembelamu atau sebaliknya, menjadi penuntutmu.” (HR. Muslim 223)

Dewasa ini, banyak sekali umat muslim yang telah tersadar akan pentingnya bersedekah. Mereka saling berbondong – bondong menyedekahkan harta untuk menolong sesama. Banyak pula lembaga amal kolektif berdiri untuk menjadi penampung dan penyalur sedekah. Tentu saja fenomena ini wajib kita syukuri. Alhamdulillah…

Nah, pembaca yang dirahmati Allah.. Ternyata tidak semua sedekah itu bisa dikatakan afdhol, lho.  Kira – kira bagaimana ya sedekah yang dikatakan afdhol itu? Simak penjelasan berikut ya..

Dalam situs ermuslim.com menjelaskan Nabi shollallahu ’alaih wa sallam memberikan gambaran kepada ummatnya mengenai sedekah yang paling afdhol.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَجُلٌ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيُّ الصَّدَقَةِ أَفْضَلُ قَالَ أَنْ تَصَدَّقَ وَأَنْتَ صَحِيحٌ حَرِيصٌ

تَأْمُلُ الْغِنَى وَتَخْشَى الْفَقْرَ وَلَا تُمْهِلْ حَتَّى إِذَا بَلَغَتْ الْحُلْقُومَ

قُلْتَ لِفُلَانٍ كَذَا وَلِفُلَانٍ كَذَا وَقَدْ كَانَ لِفُلَانٍ

Seseorang bertanya kepada Nabi shollallahu ’alaih wa sallam: “Wahai Rasulullah, sedekah apakah yang paling afdhol?” Beliau menjawab: “Kau bersedekah ketika kau masih dalam keadaan sehat lagi loba, kau sangat ingin menjadi kaya, dan khawatir miskin. Jangan kau tunda hingga ruh sudah sampai di kerongkongan, kau baru berpesan :”Untuk si fulan sekian, dan untuk si fulan sekian.” Padahal harta itu sudah menjadi hak si fulan (ahli waris).” (HR Bukhary)

Dari hadist diatas, sekurangnya kita temukan ada empat kriteria sedekah yang tergolong afdhol: (1) Dalam keadaan sehat lagi loba alias berambisi mengejar keuntungan duniawi; (2) dalam keadaan sangat ingin menjadi kaya; (3) dalam keadaan sangat khawatir menjadi miskin dan (4) tidak dalam keadaan sudah menjelang meninggal dunia dan bersiap-siap membuat aneka wasiat soal harta yang bakal terpaksa ditinggalkannya.

Pertama, orang yang paling afdhol dalam bersedekah ialah orang yang dalam keadaan sehat lagi loba alias tamak alias berambisi sangat mengejar keuntungan duniawi.
Artinya, ia masih muda lagi masa depan hidupnya masih dihiasi aneka ambisi dan perencanaan untuk menjadi seorang yang sukses, mungkin dalam karirnya atau bisinisnya.

Kedua, bersedekah ketika dalam keadaan sedang sangat ingin menjadi kaya. Nabi shollallahu ’alaih wa sallam seolah ingin menggambarkan bahwa orang yang dalam keadaan tidak ingin menjadi kaya berarti bersedekahnya kurang bernilai dibandingkan orang yang dalam keadaan berambisi menjadi kaya. Sebab bila seorang yang sedang berambisi menjadi kaya bersedekah berarti ia bukanlah tipe orang yang hanya ingin menikmati kekayaan untuk dirinya sendiri.Hal ini menunjukkan bahwa jika Allah izinkan dirinya benar-benar menjadi orang kaya, maka dalam kekayaan itu dia bakal selalu sadar ada hak kaum yang kurang bernasib baik yang perlu diperhatikan.

Ketiga, sedekah menjadi afdhol bila si pemberi sedekah berada dalam keadaan khawatir menjadi miskin. Walaupun ia dalam keadaan khawatir menjadi miskin, namun hal ini tidak mempengaruhi dirinya. Ia tetap berkeyakinan bahwa bersedekah dalam keadaan seperti itu merupakan bukti ke-tawakkal-annya kepada Allah. Ia sadar bahwa jika Allah kehendaki, maka mungkin sekali dirinya menjadi kaya atau menjadi miskin. Itu terserah Allah. Yang pasti keadaan apapun yang dialaminya tidak mempengaruhi sedikitpun kebiasaannya bersedekah.

Keempat, Nabi shollallahu ’alaih wa sallam sangat mewanti-wanti agar jangan sampai seseorang baru berfikir untuk bersedekah ketika ajal sudah menjelang. Sehingga digambarkan oleh beliau bahwa orang itu kemudian baru menyuruh seorang pencatat menginventarisasi siapa-siapa saja fihak yang berhak menerima harta miliknya yang hendak disedekahkan alias diwasiatkan. Ini bukanlah bentuk bersedekah yang afdhol. Sebab pada hakikatnya, seorang yang bersedekah ketika ajal sudah menjelang, berarti ia melakukannya dalam keadaan sudah dipaksa oleh keadaan dirinya yang sudah tidak punya pilihan lain.

Pembaca yang budiman, terlepas dari afdhol dan tidaknya harta yang kita sedekahkan, yang paling utama adalah niat kita dalam menyedekahkan. Jika kita merasa hidup kok flat, begini – gini saja, nah itu waktu yang tepat untuk bersedekah. Jika kita dilanda musibah, merasa susah, itu waktu yang tepat untuk bersedekah. Intinya adalah sedekah tidak mengenal waktu dan keadaan.

Pembaca yang budiman, selagi kita masih diberi kesempatan hidup, yuk luangkan kesempatan untuk bersedekah. Tak perlu menunggu kaya untuk bersedekah. Tak perlu menunggu ajal menjelang untuk menolong sesama. Semakin sering bersedekah semakin banyak hikmah dan barokah yang kita peroleh. Inshaa Allah. Semoga kita semua senantiasa dalam perlindungan dan pertolongan Allah dunia akhirat. Aamiin.

 

Sumber:

www.eramuslim.com

http://pengusahamuslim.com/keajaiban-sedekah-1823/#.U8r85FXadq4

https://id-id.facebook.com/notes/infaq-bikin…/sedekah…/479106385611

Pengalaman saya setelah bergabung dengan Taman Karunia lebih kurang sudah 2 tahun saya merasa mendapat pengalaman baru dan pengetahuan baru tentang hal-hal yang tidak pernah saya dapatkan. Semenjak bergabung saya merasa memiliki keluarga baru di tempat perantauan saya dimana selain diajak untuk berdonasi, saya juga diajarkan secara tidak langsung untuk mengenal saudara-saudara kita yang memilki kemampuan yang terbatas untuk dapat memperhatikan dan bermain bersama mereka walaupun hanya beberapa jam bahkan hanya dalam beberapa menit dalam sebulan. Dari sini saya mendapatkan banyak pengalaman mengenai saudara-saudara yang mebutuhkan perhatian kita.dari pengalamn ini juga saya merasa bersyukur dan mengkoreksi diri saya terhadap apa yang say lakukan selama ini. Saya merasa sangat senang apabila saat berada disamping mereka 🙂

Selain itu juga saya diajarkan juga bagaimana cara berwirausaha pada saat usia masih muda. Htiung-hitung menambah uang saku J. Selain itu juga selalu diberi arahan dan motivasi untuk saya baik dalam hal kuliah atau dalam hal apapun yang bagi saya arahan maupun motivasi tersebut sangat bermanfaat buat saya dalam mencapai tujuan yang terkadang saya inginkan.

Saya bangga dan sangat senang menjadi bagian dari keluarga Taman Karunia. Tetap Berjaya Taman Karunia dan semoga sukses selalu dan mencapai tujuan yang cita-citakan 🙂

(Ayu)

Bergabung dan menjadi penerima Taman Karunia Scholarship adalah nikmat Allah yang tak terkira. Sudah 2 tahun ini saya bergabung dengan Taman Karunia, mengikuti beberapa agenda yang telah dijadwalkan oleh Taman Karunia. Bagi saya, beasiswa ini sangat bermanfaat. Saya mampu meringankan beban biaya hidup saya yang ditanggung oleh ibu saya.

Tidak seperti beasiswa yang lain, Taman Karunia Scholarship tidak hanya sekedar memberikan beasiswa. Para penerimanya diwadahi dalam beberapa kegiatan positif seperti Taman Karunia Berdikari dan menjadi pengelola media online milik Taman Karunia (website, facebook, twitter). Kami juga dillibatkan dalam memberikan donasi untuk beberapa tempat yang setiap bulannya rutin Taman Karunia berikan donasi yaitu Himmatu dan Panti Asuhan Bina Siwi. Kami tidak hanya menyalurkan donasi, tapi juga belajar menjadi seorang inspirator dan motivator untuk anak – anak di kedua tempat tersebut.

Disanalah kami belajar bagaimana menginspirasi dan memberi motivasi pada anak – anak yang tak seberuntung di luar sana ke dalam suatu aktivitas positif yang menyenangkan. Kami juga belajar bagaimana harusnya bersyukur, membagi kebermanfaatan dan memberi keikhlasan. Rasa haru kerapkali muncul ketika melihat binar mereka menatap masa depan dalam penuh kesederhanaan. Begitu pula rasa malu, yang seringkali menghampiri untuk sekedar mengetuk pintu hati : “sudahkah kamu menjadi manusia yang pandai bersyukur dan mampu memberi manfaat?”

Terimakasih, Allah atas Rahmaan dan Rahiim-Mu.

Terimakasih, teman – teman di Himmatu dan Bina Siwi yang selalu membuat saya takjub.

Terimakasih, Taman Karunia.

Terimakasih…

(Dy)

 

Bangunan sederhana berpagarkan warna biru terlihat berdiri gagah di tengah tepian sawah yang hijau dan meresapkan mata. Panti Asuhan Bina Siwi namanya. Panti Asuhan ini berdiri kurang lebih 5 tahun yang lalu. Belum lama memang, tapi prestasi anak asuh yang tinggal di panti ini sungguh luar biasa.

Panti Asuhan Bina Siwi menampung dan membina anak berkebutuhan khusus (difabel) menjadi insan yang berkarakter, berdaya juang tinggi, dan beprestasi. Harus diakui, kemampuan berpikir mereka di bawah rata – rata orang yang normal. Ada kelemahan, pasti ada ada kelebihan. Begitu pula dengan anak asuh Bina Siwi yang dengan segala keterbatasannya, mampu berkarya dan bekerja layaknya orang yang normal.

Bu Jumilah, salah satu pendiri dan pengasuh Panti Asuhan Bina Siwi, mengungkapkan selama 5 tahun Bina Siwi berdiri menunjukkan peningkatan prestasi yang luar biasa. Pada tahun pertama berdiri, Panti Asuhan Bina Siwi mampu memproduksi emping melinjo dan telur asin. Tidak hanya itu, panti asuhan ini juga memiliki lahan pertanian mini yang ditanami tanaman holtikultura seperti cabai, tomat, mentimun, dan lainnya.

Seiring berjalannya waktu, panti asuhan yang dulunya hanya ditinggali oleh belasan anak asuh saja ini, pada tahun 2014 telah memiliki anak asuh sebanyak 38 orang. Seiring berjalannya waktu pula, membuat Bina Siwi lebih mandiri lagi. Semakin banyak prestasi dan karya yang bergulir dari panti asuhan yang mengemas segala kegiatannya secara terpadu dan kekeluargaan ini. Menjelang akhir tahun 2013, Panti Asuhan Bina Siwi telah mampu memproduksi kaos, keset, boneka, dan aksesoris. Bahkan luar biasanya lagi, anak – anak asuh yang notabenenya adalah difabel telah mampu membatik baik dengan pewarna alami dan pewarna buatan.

Prestasi ini bukan hal yang secara instan diperoleh. Staf pengajar atau pengasuh di Bina Siwi hanya beberapa orang yang merelakan diri untuk membagi ilmu dan waktu secara lebih untuk mereka. Inspirasi karya di atas diperoleh dari kegigihan para pengasuh dalam meng-update ilmu yang berkembang. Juga, terkadang para pengunjung panti tidak sedikit yang mau membagi ilmu dan pengalaman berkarya (apapun itu) kepada staf pengasuh maupun anak asuhnya.

Taman Karunia sebagai lembaga amal kolektif yang memiliki kepedulian tinggi terhadap kemajuan suatu umat rutin menyalurkan donasi untuk Panti Asuhan Bina Siwi. Taman Karunia percaya bahwa Bina Siwi akan mampu terus berkembang dan menjadi panti asuhan teladan. Sehingga sampai detik ini, Taman Karunia masih terus berupaya membersamai Panti Asuhan Bina Siwi.

Fastabiqul Khairat! Berlomba – lombalah dalam kebaikan. Anda yang ingin bergabung menjadi donatur di lembaga amal kolektif Taman Karunia dapat mengirimkan donasi dengan cara salurkan ke:

Bank Muamalat, Kantor kas UGM Yogyakarta

An. Bety Ria Sersana, S.Kom no rek : 0158682958

Anda juga dapat mengunjungi langsung Panti Asuhan Bina Siwi dengan alamat: Panti Asuhan Bina Siwi, Komplek Balai Desa Sendangsari, Pajangan, Bantul, Yogyakarta. Email : pabina_siwi@yahoo.com Cp : 081227688818, 081328016593 ( Jumilah )

Nah… Berikut adalah beberapa gambar yang dapat anda jumpai di Panti Asuhan Bina Siwi 🙂

2

Boneka dari Kain Flanel. Cantik, bukan?

 

 

3

Baju Batik karya Bina Siwi

 

4

Kain Batik Berbahan Dasar Pewarna Buatan

10374266_545745015546413_1469555271_n

Aksesoris Cantik nan Lucu